23 Meninggal Akibat Gizi Buruk di NTB
Oleh Althaf pada Kamis 25 Juni 2009, 08:27 AM
MATARAM (Arrahmah.com) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam empat bulan terakhir (Januari-April) 2009 menemukan 268 kasus gizi buruk, sebanyak 23 orang di antaranya meninggal dunia dan 63 orang sedang dalam proses perawatan.
Sisanya berhasil disembuhkan, kata Kepala Dinkes NTB dr H. Muhammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Rabu (24/6).
Ia mengatakan, jumlah kasus gizi buruk tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 466 kasus, dan sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia.
"Masih banyaknya kasus gizi buruk di NTB bukan karena kasusnya bertambah, melainkan karena petugas di lapangan semakin aktif mendata penderita gizi bermasalah. Gizi buruk bukan semata-mata akibat kekurangan gizi, tetapi bisa juga disebabkan penyakit penyerta," ujarnya.
Ia mengatakan, petugas surveilans di lapangan semakin aktif melakukan pendataan penderita gizi bermasalah. Kasus yang ditemukan kemudian segera dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang telah dilengkapi dengan pusat pengobatan kasus gizi buruk atau Therapy Feeding Centre (TFC).
Menurut dia, penderita gizi buruk kini tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit kabupaten atau provinsi, tetapi cukup ditangani oleh petugas puskesmas karena sebagian besar fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi TFC.
"Belum lama ini kami melatih sejumlah petugas kesehatan di puskesmas agar mampu mengoperasikan peralatan TFC tersebut, sehingga sekarang sumber daya manusia (SDM) di puskesmas sudah mampu menangani kasus gizi buruk," kata Ismail.
Menurut dia, hingga kini masyarakat masih menganggap bahwa gizi buruk diakibatkan oleh masalah ekonomi, artinya para orang tua tidak mampu memberikan asupan gizi dalam jumlah yang mencukupi kepada anak-anak mereka.
Padahal ada anak-anak yang menderita gizi buruk akibat penyakit yang menyebabkan mereka tidak memiliki nafsu makan sehingga akhirnya mengakibatkan kekurangan asupan gizi. Dalam kasus itu, penyakit penyerta harus disembuhkan terlebih dulu baru kemudian kasus gizi bermasalah ditangani.
Ia mengakui kasus gizi buruk juga tidak terlepas dari penanganan bayi oleh para bidan desa. Karena itu para bidan desa diharapkan terus memantau kondisi gizi bayi yang baru lahir agar tidak menderita gizi buruk. (Althaf/antara/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Penjahat Cyber Masih Incar Pengguna Twitter
- Rusia Kecewa Pada Kirgistan Yang Kembali Pada Pangkuan AS
- AS Lanjutkan Misinya Di Beberapa Kota Di Irak Pasca 30 Juni
- McChrystal: Perubahan Kultural Sangat Penting Bagi Pertempuran Di Afghanistan
- AS Khawatirkan Kepentingan Barat Terancam Di Sudan
- Tiga Polisi Boneka Pakistan Tewas Dalam Serangan Taliban
- Ringkasan Operasi Militer Mujahidin Afghanistan 23 Juni 2009
- KPU: Tak Ada Komersialisasi Debat Cawapres (???)
- China Rekrut Warga Jadi Polisi Internet
- Israel Hancurkan Gedung Internasional Di Tepi Barat
Berita Terbaru
- Serangan Roket Tewaskan Seorang Tentara di Basis NATO
- Pemerintah Transisi Somalia dan Kelompok Ahlu Sunnah Berbagi Kekuasaan
- Nama FBI Malah Bikin Kejahatan Internet Naik
- Jadwal Baru Obama ke Indonesia 23-25 Maret
- Mesir Tangkap Pelajar Yang Melakukan Protes Anti-Israel
- Pakistan Bombardir “Posisi Taliban”?
- Israel Perintahkan Tuk Hancurkan Masjid di Nablus
- AS Ingatkan Eropa Soal Diskriminasi Muslim
- Hugo Chavez Mulai Geram dengan Internet
- PKS Dukung Kunjungan Obama???
. on 03/07/09 07:46 AM said:
gaaaji 0anggota dprd tlong dipotong untukmemperbaiki giji masyarakaat