Menkes Diminta Tindaklanjuti Vaksin Mengandung Babi
Oleh Althaf pada Ahad 26 April 2009, 07:14 PM
LAMPUNG (Arrahmah.com) - Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mendesak Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari untuk menindaklanjuti temuan MUI yang mendapati vaksin meningitis mengandung babi.
"Karena hal itu merupakan wewenang sepenuhnya Menteri Kesehatan, maka dalam waktu dekat, kami akan mendesak Menkes untuk menindaklanjuti dan mengambil langkah-langkah," kata Maftuh Basyuni di sela-sela kunjungan kerja ke Lampung, Minggu (26/4) malam.
Sebelumnya Menag mengucapkan terima kasih atas informasi yang disampaikan oleh Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumatera Selatan bahwa ada vaksin meningitis yang mengandung babi.
Namun Maftuh mengaku kecewa karena sikap MUI yang langsung mempublikasikan temuan tersebut.
"Tapi saya sangat kecewa dan menyayangkan cara penyampaiannya yang dilakukan oleh MUI. Mestinya cukup disampaikan kepada kami, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan, sehingga tidak membuat gelisah calon jamaah haji," papar Menag.
Temuan LPPOM MUI itu mulai menuai sejumlah reaksi dari kalangan ulama.
Cari Alternatif
Sebelumnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Amidhan, memberikan reaksi dan meminta pemerintah untuk mencari alternatif vaksin lain yang bersifat halal.
"Jika terbukti benar mengandung enzim babi, maka wajib dicari alternatif lain, yakni vaksin yang tidak mengandung babi. Haji itu ibadah, beredarnya kabar ini akan membuat jamaah haji tidak tenang," ia menegaskan.
Mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Depag itu mengaku belum mengetahui secara detail mengenai laporan tersebut. Namun ia berjanji akan mengkomunikasikan masalah vaksin ini dengan LPPOM MUI pusat.
"Masih perlu penelitian lebih lanjut," katanya.
Selain itu, imbuh Amidhan, MUI pusat akan menindaklanjuti secepatnya. Pihaknya mengaku akan berkoordinasi dengan MUI Sumatera Selatan, Departemen kesehatan dan beberapa pihak yang terkait.
Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Masykuri Abdillah dalam menanggapi berita tersebut mengatakan, pemerintah harus melakukan upaya-upaya dan memproduksi vaksin yang tidak dari babi.
"Jika terbukti benar mengandung babi, maka harus diganti vaksinnya," tegasnya.
Namun ia pun buru-buru menegaskan, harus dilakukan pengkajian yang lebih canggih. Pasalnya, penelitian tersebut baru dilakukan di LPPOM MUI Sumsel.
"Untuk itu harus ada kerja sama antara Depag, Departemen Kesehatan (Depkes), dan LPPOM MUI," ujarnya.
Setelah dilakukan pengkajian, kata Masykuri, akan ditemukan hasilnya, apakah halal atau haram. Hanya saja ada dua opsi dari waktu penelitian tersebut. Jika penelitian cepat, maka lebih bagus. Jika lambat, harus dilakukan musyawarah ulama.
"Jika hasilnya belum didapat hingga menjelang haji 2009, maka musyawarah ulama harus memutuskan apakah vaksin ini tetap dipakai atau sama sekali tidak dipakai," katanya.
Masykuri mengaku para ulama khususnya Ulama NU akan melakukan tindakan menyingkapi kabar yang beredar ini.
"Kami antisipasi masalah ini. Saya tidak bisa mengatakan bagaimana tindakan kami, baru akan kami bahas," tegasnya.
Ragukan
Sementara itu, Sekditjen haji Depag, Abdul Ghofur Djawahir, mengaku masih meragukan hasil temuan dari LPPOM MUI Sumsel. Pihaknya menanyakan apakah vaksin meningitis yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah vaksin meningitis untuk jamaah haji atau bukan.
"Untuk itu perlu ada penelitian ulang. Kami akan cari tahu apakah ada jenis meningitis lain. Masalahnya saat ini banyak barang imitasi," katanya.
Abdul Ghofur mengaku pihaknya mengacu pada vaksin meningitis yang digunakan untuk ibadah haji seperti yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi. Vaksin ini merupakan kebijakan pemerintah Arab Saudi yang mengetahui penyakit apa saja yang mungkin didera jamaah haji disana.
"Kami percaya sama Arab Saudi karena negara itu, negara besar yang juga memiliki alat-alat canggih," katanya.
Menurut Abdul Ghofur, vaksin dari Arab Saudi akan dibandingkan dengan vaksin yang diteliti oleh LPPOM MUI Sumsel. Jika vaksin yang digunakan sama, maka akan dikembalikan lagi pada kebijakan Arab Saudi.
Namun sebelumnya, imbuh Abdul Ghofur, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Depkes, LPPOM MUI pusat, dan MUI pusat mulai Senin (27/4).
"Perlu ada pembahasan lebih lanjut. Pembahasan masih memerlukan waktu," ujarnya.
Abdul Ghofur mengaku hingga kini pihaknya belum menerima laporan dari pihak LPPOM MUI Sumsel maupun MUI Sumsel.
"Jika laporannya ke Depag provinsi jelas mereka tidak punya kewenangan," paparnya. (Althaf/antara/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
Ayo siapa yg bertanggung jawab di Pemerintahan ttg maslh ini????
Masukan untuk saudara ku di organisasi NU, jgn hanya mencari keputusan halal haram saja tapi desak pemerintah u bertanggung jawab thd masalah ini!!!
Kritik u bapak Maftuh, info seperti ini jgn disembunyikan dr masyarakat!!!
Ini penting sekali pak, jgn main sembunyi2 lah!!! U sekditjen haji Depag,
anda kok “Ragu” thd hasil penelitian saudara muslim anda / anda lebih percaya kaum kafir?
Saya br2 ini dpt info dr Youtube pada topik “Ceramah ust.Rohmat Hidayat Syarifudin 1-3” ttg salh satu metode pengkristenan di Indonesia adl lewat makanan dan minuman!!!
Dan diantaranya adl coklat,ice cream,daging sapi n ayam(lht di youtube).
apapun yang mereka lakukan pasti ada balasannya, dan Alloh yang akan membalasnya
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Motede Penyiksaan AS Menyebabkan Tentara AS Bunuh Diri
- Israel Memanfaatkan Para Pasien Palestina
- "Pakistan Harus Fokus Pada Taliban, Bukan India"
- Tentara Boneka Pakistan Bertempur Dengan Taliban Di Sekitar Swat
- (Lagi) Tentara Kafir AS Tewas Di Utara Irak
- India: Pakistan Membantu Perlawanan Muslim Kashmir
- RI-Swedia Sepakat Tingkatkan Kerjasama HAM (???)
- Awas!! Jangan Jadi Korban Conficker
- Clinton Memperbaharui Dukungan Untuk Irak
- Taliban Menjadikan Islamabad Ada Dalam Kondisi 'Bahaya'
Berita Terbaru
- Tentara Israel Ringkus Lima Bocah Palestina
- Indonesia di ‘Daftar Hitam’, Pemerintah Diminta Tegas?
- Virus Lokal Seret Nama Antivirus
- Militer Israel Konfirmasi Serangan Udara Ke Gaza
- Aksi Penjajahan NATO Di Kandahar Pun Dimulai
- Hubungan AS-Pakistan Bukan Hanya Soal Keamanan
- Dua Penduduk Palestina Terluka Akibat Bombardir Israel di Jalur Gaza
- SBY Diminta Amalkan Surat Al Mumtahanah:9
- NATO Berencana Gelar Operasi Besar di Utara Afghanistan
- Serangan Bom Ranjau di Afghanistan Semakin Mematikan
. on 27/04/09 04:10 AM said:
Astagfirullah, klo hal ini benar adanya maka tidak salah jika Allah SWT di dlm Alquran mengingatkan bahwa kaum kristen dan yahudi tidak akan rela sebelum umat islam mengikuti agama(kekafiran)mereka atau sebelum islam lenyap di muka bumi!!