Munarman: Negara Kita Bukan Negara Hukum Tapi Negara Kekuasaan

Oleh Hanin Mazaya pada Rabu 20 Agustus 2008, 01:15 PM

Print Recommend (0) Comment (5)
Masa tahanan Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Shihab dan Panglima Komando Laskar Islam Munarman semestinya berakhir Rabu (20/8) tepat pukul 00.00. Namun, hingga saat ini kedua aktivis Islam yang sangat getol menuntut pembubaran ajaran sesat Ahmadiyah masih berada dalam tahanan.
Terkait dengan ini, Munarman memberikan komentarnya dan menitipkan pesannya agar disebarkan pada masyarakat luas. Munarman menyatakan kasus masa tahanan dirinya dan Habib Rizieq yang sempat tak jelas ini membuktikan bahwa negara kita bukanlah negara yang menghormati hukum. Negara kita nyatanya diatur berdasarkan kepentingan orang yang berkuasa saat ini.

“Ini bukti bukan negara hukum, tapi negara kekuasaan. Sudah jelas-jelas surat perpanjangan (penahanan-red) terlambat datang tapi aparat tetap melakukan penahanan,” ujarnya.

Munarman menambahkan rezim penguasa saat ini sama saja dengan rezim pada masa penjajahan Belanda sebelum Indonesia merdeka. “Rezim ini tidak lebih dari rezim kolonial Belanda,” tandasnya.

Sementara itu, Pengacara FPI Sugito memprotes keras soal tidak jadi dibebaskannya Munarman dan Habib Rizieq. "Berdasarkan pasal 333 ayat 1 KUHP itu adalah perampasan kemerdekaan yang dilakukan Polda. Ini sudah merampas hak kemerdekaan. Mana penegakan hukum?" kata Sugito.

Jaksa Penuntut dari Kejati DKI Jakarta Wahyudi siang ini terlambat menyerahkan surat penahanan dari hakim ke tempat Habib Rizieq ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Dari keterangannya pada wartawan didapat informasi bahwa Habib Rizieq masih akan mendekam di tahanan selama proses pengadilan sampai tanggal 10 September 2008.

Para anggota FPI yang sejak pagi telah menunggu-nunggu pembebasan kedua pejuang Islam itu pun harus kecewa. Mereka membubarkan diri setelah mengetahui keduanya tak jadi dibebaskan dan penahanan mereka ternyata diperpanjang. [Aul/SI)

 

Berita Lainnya Tentang

Munarman: Negara Kita Bukan Negara Hukum Tapi Negara Kekuasaan

sponsored links

Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com

The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net

. on 20/08/08 08:17 PM said:

Kalau seperti itu realitas negara, saya pun tidak sangsi untuk membayangkan dan menjamin apabila yang ditahan sejenis Goenawan Muhammad dan kawan-kawan, tentu tanpa menunggu surat pembebasan tahanan, mereka sudah keluar lebih awal.

Permasalahannya sebetulnya bukan sebatas negara kekuasaan,tetapi negara yang diisi oleh kekuasaan-kekuasaan jahil. Sikap yang akan ditampilkan, tentu double standar, karena selalu menjadi orang-orang yang senantiasa ‘pura-pura tidak tahu’.

Kepada Munarwan dan siapa saja yang memiliki irama perjuangan yang sama, semoga tetap konsisten. Rabbuna ma’akum.

. on 21/08/08 02:15 AM said:

Negara Kita Bukan Negara Hukum Tapi Negara Kekuasaan

adalah wajar entoh yang buat hukum mereka-mereka kok…!!!
maka terkutuklah bagi para pendukungnya

. on 22/08/08 04:02 AM said:

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya ORANG-ORANG YANG SESAT dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. 38. SHAAD,26

Abu Hasya on 22/08/08 06:08 PM said:

Seingat saya, tidak pernah ada salafy yang memberikan dukungan kepada Bush atau pememimpin negara kafir lainnya.

Yang benar itu, salafy mengakui kepemimpinan dari negara - negara muslim. Seperti contohnya Indonesia karena bagaimanapun misal SBY sudah menjadi presiden Indonesia terlepas apakah lewat pemilu atau kudeta.

Ini dalilnya :

Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))

Dibandingkan kebanyakan orang, ikut pemilu, calonnya gak menang ehh gak mau terima.

Udah dosa ikut pemilu dosa lagi tidak mendengarkan perintah Rosulullah untuk taat kepada pemimpin.

Pilih mana hayyoo

mu7ahid on 24/08/08 04:36 AM said:

@Abu Hasya
Ikut pemilu = dosa, tidak taat pada “pemimpin” = dosa.

Syariat Islam bisa tegak ujug2 jatuh dari langit

Anda harus login untuk memberikan komentar



Auto-login on future visits

Show my name in the online users list

Forgot your password?