Wahabi dan Keluarga Nabi

Oleh Prince of Jihad pada Rabu 17 Juni 2009, 07:59 PM

Print Recommend (0) Comment (12)

Benarkah kaum wahabi membenci keluarga Nabi? Kita sering mendengar berita itu, tapi jarang dari kita yang mau bersikap kritis dan berani mengklarifikasi.

Dengan nama, kita bisa membedakan manusia satu dengan lainnya. ketika nama kita berbeda, kita bisa merasa kitalah yang dipanggil oleh teman. Tanpa nama, teman kita akan merasa kesulitan membedakan kita, dan sulit untuk memanggil kita dari kejauhan. Nama adalah faktor penting dalam kehidupan manusia

Nama yang indah adalah hiasan bagi seseorang, maka seluruh manusia –kafir ataupun mukmin- berusaha memilihkan nama yang indah bagi anak-anak mereka. nama-nama indah biasanya adalah nama-nama tokoh terkenal, juga nama yang dianggap memiliki nama indah. Ketika orang tua memilihkan nama seorang tokoh untuk anaknya, maka dia berharap anaknya menjadi seperti tokoh itu. 

Dan masalah nama faktor subyektifitas yang tinggi, karena nama-nama yang dipilih biasanya dianggap bagus oleh pemilik nama, jika seorang ayah memilihkan sebuah nama bagi anaknya, minimal si ayah memiliki anggapan bahwa nama itu bagus, meski di mata orang lain nama itu tidak memiliki makna atau bermakna buruk. Maka nama yang bagus bagi orang belum tentu bagus di mata orang lain. Nama yang indah bagi sebuah daerah belum tentu dianggap bagus oleh penduduk daerah lain. 

Juga bisa terjadi sebuah kasus di mana orang memberi nama anaknya dengan nama yang dianggapnya indah, namun dia tidak tahu bahwa nama itu ternyata memiliki makna yang buruk. Seandainya dia tahu nama itu bermakna buruk, maka dia pasti memilihkan nama lain untuk anaknya. Orang tidak akan memilihkan nama yang buruk bagi anaknya. Dalam hal ini keseluruhan manusia yang ada di dunia memiliki pandangan yang sama. Tidak ada orang yang sengaja memilihkan nama buruk bagi anaknya. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi sebuah nama dianggap buruk bagi seseorang atau sebuah daerah, namun di daerah lain atau bagi orang lain nama itu dianggap nama yang indah. 


Maka kita bisa memahami jika teman-teman syi’ah memberi nama anaknya dengan nama-nama yang indah menurut mereka, seperti Jawad dan Kadzim. Dan memang nama-nama itu memiliki makna yang indah, seperti misalnya Jawad, dalam bahasa arab, nama jawad artinya kurang lebih suka memberi. Begitu juga kadzim artinya mampu menahan marah. Selain memiliki makna yang indah. Juga nama seperti Ali, Hasan dan Husein, yaitu dari nama tokoh yang mereka anggap sebagai imam. 

Tidak ada teman syi’ah yang senang dengan nama-nama “musuh” mereka seperti Abubakar dan Umar. Lalu bagaimana jika dia terlambat mengenal syi’ah lalu diberi nama dengan nama-nama yang dulu dianggap indah seperti Abubakar dan Umar? Ada yang tidak merubah nama itu, namun ada juga yang merubah namanya dengan nama yang lebih baik, seperti ada seseorang yang dulunya –ketika masih sunni- bernama Abubakar -saya rasa tidak relevan jika kita tuliskan nama lengkapnya di sini- lalu mengganti namanya menjadi Ali, dan dikenal dengan julukan daerah tempat dia tinggal. Di sisi lain, konon dari cerita-cerita yang beredar, ada juga temen syi’ah orang tuanya memilihkan nama Umar untuknya, saat itu dia belum mengenal syi’ah, tetapi setelah masuk syi’ah dia tidak mengganti namanya. 

Bahkan konon ada pepatah arab yang berbunyi: dari namamu aku tahu siapa ayahmu. Artinya dari nama yang dipilih untuk anaknya, kita bisa mengetahui kualitas orang tuanya. Orang tua yang ber”kualitas” tidak akan mungkin memilih nama sembarangan untuk anaknya. Seperti ketika kita mengenal anak bernama jawad, kita tahu bahwa orang tuanya mencintai imam Muhammad bin Ali Al Jawad, dan ingin agar anaknya menjadi seperti dia. Begitu juga ketika kita mengenal anak bernama kadzim, kita tahu si orang tua cinta pada imam Musa Al Kazhim. 

Orang-orang awam memberi namanya dengan nama-nama yang indah, begitu juga penganut syi’ah sendiri, maka para imam lebih mengetahui hal ini dan tidak mungkin memberi nama anak-anaknya dengan nama yang buruk, atau nama tokoh-tokoh musuh Islam dan musuh keluarganya sendiri. karena sudah pasti para imam itu –menurut keyakinan syi’ah- adalah maksum dan terbebas dari kesalahan dan kekeliruan serta sifat lupa. Masalah maksum ini adalah salah satu aksioma dalam mazhab syi’ah yang sudah “paten” dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena sifat maksum inilah teman-teman syi’ah menolak meyakini bahwa yang bermuka masam dalam surat “Abasa” adalah Rasulullah SAW. Karena nama-nama yang buruk adalah cerminan buruk bagi pemberi nama –dalam hal ini adalah ayah si anak yang merupakan imam ahlulbait-. Para imam adalah manusia-manusia suci yang terbebas dari keburukan. Pasti para imam memberi nama anak-anaknya dengan nama yang mereka anggap indah. 

Dalam sejarah -yang ditulis oleh kitab-kitab syi’ah sendiri- tercantum kenyataan bahwa Ali memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama Abubakar, Umar dan Utsman. Tokoh-tokoh yang dianggap lebih kafir oleh syi’ah. Begitu juga imam Hasan dan Imam Husein memberi nama anaknya dengan nama Umar. Padahal Muhammad Baqir Al Majlisi -seorang pakar hadits syiah- menyatakan : 

saya katakan dalil yang menunjukkan bahwa Abubakar, Umar dan orang yang sejalan mereka dengan mereka adalah kafir, juga menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas cukup bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Biharul Anwar jilid 30 hal 399.

Bukan hanya kafir, tapi harus dilaknat, dan melaknat Abubakar, Umar dan Utsman dan ahlussunnah mendatangkan pahala.

Ali Zainal Abidin memberi nama anak perempuannya dengan nama Aisyah, sebuah nama yang dibenci oleh syiah hari ini. Imam Hasan memberi nama anaknya dengan nama Thalhah .
Padahal Aisyah dan Thalhah di mata Khomeini –tokoh syi’ah hari ini- yang sering disebut oleh syi’ah dengan panggilan Imam Khomeini, adalah lebih buruk dari anjing dan babi:

Sedangkan seluruh kelompok nashibi bahkan khawarij, tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya mereka meskipun mereka akan disiksa lebih pedih dari siksaan orang kafir. Jika ada seorang penguasa yang memberontak terhadap Amirul Mukminin tanpa alasan [keyakinan] agama [karena alasan dunia], tetapi karena ingin merebut kekuasaan, atau karena tujuan-tujuan lain. Seperti Aisyah, Zubair, Thalhah, Muawiyah dan yang lainnya. Atau yang memusuhi Ali dan salah satu dari para imam tanpa alasan keyakinan agama, tetapi karena memusuhi suku Quraisy, atau Bani Hasyim, atau membenci bangsa arab, atau karena [imam] telah membunuh ayahnya atau anaknya, atau sebab lainnya, semua itu tidak mengakibatkan status najis secara zhahir, meskipun mereka [hakekatnya] lebih buruk dari anjing dan babi, karena tidak ada dalil dari hadits maupun ijma’ tentang hal itu [najisnya nashibi secara zhahir].Kitab Thaharah jilid 3 hal 457. 

Ali memang mencintai Abubakar, Umar dan Utsman, maka Ali memilih nama-nama mereka untuk anaknya. Sebagaimana syi’ah hari ini memberi nama anaknya dengan nama kadzim dan jawad karena cinta mereka pada Imam Kadzim dan Jawad, Ali memberi nama anaknya dengan Abubakar dan Umar karena kecintaannya pada mereka. Begitu pula imam Hasan dan Husein, yang jelas maksum dan lebih mengenal sejarah dibanding syi’ah hari ini, karena mereka adalah pelaku sejarah. 

Ini bisa dilihat dalam Kasyful Ghummah jilid 2 hal 334, I’lamul Wara karya Thabrasi, begitu juga dalam kitab Al Irsyad karya Al Mufid.

Kita sudah terbiasa untuk menelan segala berita yang ada mentah-mentah, tanpa menggunakan lagi sikap kritis untuk menilai sebuah berita. Ini bisa jadi karena berita itu begitu sering kita dengar, akhirnya kita tidak merasa perlu lagi untuk klarifikasi dan tabayun. Meskipun berita itu kita dengar dari orang-orang yang mungkin nampak valid, namun kita masih harus bersikap kritis dan meneliti lagi. Di antara yang sering kita dengar adalah klaim bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah membenci ahlulbait. Seperti pembaca juga, saya pun sering mendengar berita-berita itu. Tapi saya mencoba melangkah lebih jauh dari sekedar percaya, saya mencoba bersikap kritis dan mencari tahu tentang hal itu. 

Ternyata Muhammad bin Abdul Wahab memberi nama anaknya dengan nama-nama keluarga Nabi, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Ini tercantum dalam kitab Ad Durar As Saniyyah cetakan pertama dari Darul Ifta’ jilid 19 hal 12, begitu juga kitab Ulama Najd karya Al Bassam jilid 1 hal 155. Sebagaimana temen-temen syi’ah memberi nama anaknya dengan Kadzim karena cinta pada imam Musa Al Kadzim, begitu juga Muhammad bin Abdul Wahhab memberi nama anaknya dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein karena cintanya pada mereka.

Source: hakekat.com

 

Tulisan Lainnya Tentang

Wahabi dan Keluarga Nabi

. on 19/06/09 10:44 AM said:

Muhammad bin Abdul Wahab boleh jd tdk benci pd Keluarga Nabi Saw, tp bs dipastikan beliau tdk cinta. Sebab jk beliau cinta, mk akan jd Syiah. Dan itu berarti akan merubah keimanan dr tdk mengimani keimamahan 12Imam menjadi mengimaninya.

. on 12/07/09 12:59 PM said:

Yang harus diwaspadai adalah para penyusup dan para penghasut yang ingin menjadikan islam berpecah belah, keep ukhuwah ya brother salam kenal dr saya orang baru nih jazakallah

. on 03/08/09 10:41 PM said:

Perlu kiranya Muslim Indonesia mengenal riwayat Syi’ah dan Sunni, kalo ternyata perbedaannya karena pengalaman perjalanan sejarah maka seharusnya syi’ah dan sunni tidak berbeda.

. on 03/08/09 10:44 PM said:

kalo oleh sebab ada kepentingan tertentu yg nyusup, wajar sampai sekarang mereka sulit utk tidak berbeda. Keluarga Ali r.a. memang wajar kalo saat itu menjadi sangat geram menyaksikan musuh2 Ali r.a. memperlakukan beliau dan keluarganya.

. on 03/08/09 10:48 PM said:

Rasa geram inilah yg menimbulkan rasa introvet dan terbawa sampai sedemikian sulit utk dilukiskan sehingga perasaan itu terwariskan ke anak keturunannya sampai sekarang. Ini perlu saling dimaklumi sebab keduanya sebenarnya sama.

Yanuar We on 04/08/09 01:09 PM said:

FANATIK SEMPIT DAPAT MENYEBABKAN BUTA HATI DARI MEMAHAMI KEBENARAN YANG SEKECIL PUN..LOGIKA SYI’AH SUNGGUH MENGHERANKAN. SYI’AH MELAKNAT ABU BAKAR,UMAR,UTSMAN; PADAHAL BELIAU JUGA SAHABAT, KELUARGA RASULULLAH SAW DAN ALI RA.

. on 15/08/09 06:28 PM said:

yang pasti di Alquran tidak ada islam syia’ah atau sunni yang ada adalah islam agama yg di bawa Rasullah SAW, islam yg Haq.Bahkan Rasullah SAW tidak pernah mengajajarkan kutukan/hujatan kpd manusia yg melawannya.

. on 15/08/09 06:47 PM said:

kita anggap seolah bahwa Allah SWT salah dalam memilih sahabat2 utk Rosullullah SAW, bahkan sikap kita melebihi Allah SWT sang pencipta. Allah saja tdk pernah menghujat iblis yg menentang Nya .. apkh iblis diciptakan hanya untuk dihujat?

. on 15/08/09 06:59 PM said:

Syi’ah dan Sunni berawal dari persoalan politik, selama Islam hanya ditempatkan pada persoalan politik maka ia akan sempit dan selalu akan konflik selamanya. Selama hakikat Islam tdk digali maka     ia hanya menjadi teori logika saja.

. on 22/08/09 04:02 AM said:

izin emnyebarkan artikel ya….
syukron

. on 25/08/09 10:55 PM said:

disini tidak menjelaskan sama sekali tentang wahabi yang tidak suka dengan keluarga nabi (ahlulbait) keturunan sayidina ali zainal abidin, keturunan yang selalu dianggap sesuatu yang tidak ada oleh wahabi

. on 25/08/09 10:56 PM said:

saya bukan syiah dan bukan wahabi
saya cinta keluarga rasul dan sahabat2nya
situs ini nampaknya pro wahabi ya??

Anda harus login untuk memberikan komentar



Auto-login on future visits

Show my name in the online users list

Forgot your password?